OH..... PENDIDIKAN
Berawal engkau memiliki tujuan yang mulia
Bermaksud mencerdaskan bangsa
Tak beda-bedakan kelas sosial
Namun, sekarang apa yang terjadi?
Engkau peras uang kami (rakyat)
Hingga kami terasa terbodohi
Oh.... pendidikan oh....pendidikan
Apakah kami (rakyat) sapi?
Yang selalu engkau peras uang kami!
Kamis, 21 April 2016
PUISI TEMA KARTINI
Lahirlah Jiwa Kartiniku
Kartini oh... Kartini
Pahlawanku Pejuangku
Jiwamu ksatria nan anggun
Akankah terlahir kembali?
Tuk menghiasi hidup payahku ini
Kalau ada kan kutunggu
Sampai bumi mwngecil pun tetap kutunggu
Oh..... Kartiniku pahlawanku semangatku!
Kartini oh... Kartini
Pahlawanku Pejuangku
Jiwamu ksatria nan anggun
Akankah terlahir kembali?
Tuk menghiasi hidup payahku ini
Kalau ada kan kutunggu
Sampai bumi mwngecil pun tetap kutunggu
Oh..... Kartiniku pahlawanku semangatku!
Jumat, 15 April 2016
MENGINJAK ANGKA 70
Menginjak Angka 70
Wahai pembaca yang saya kagumi,
sebelumnya sudahkah kalian bangga dengan negri ini? Yang dimana memiliki sejarah yang luar biasa dalam
membentuk kehidupan yang sudah menginjak angka 70 tahun ini!
Mengingat bahwa negri kita yang merdeka
sudah berumur 70 tahun ini, masih banyak sekali permasalahan-permasalahan yang
melanda seluruh masyarakat Indonesia. Kita ingat bagaimana susah payahnya dalam
merebut kemerdekaan dari tangan para penjajah terdahulu yang dipelopori oleh
Bung Karno dan kawan-kawan, serta bantuan dari Tan Malaka
cs untuk mewujudkan kemerdekaan 100%!
Kita harus lah beruntung karena kita tidak terlahir pada
masa yang mengerikan tersebut, namun tugas kita sebagai generasi penerus
sebenarnya jauh lebih berat yaitu ‘mempertahankan kemerdekaan 100%’.
Seperti
yang pernah diucapkan oleh Bung Karno, “ Perjuanganku sedikit lebih mudah,
karena yang kulawan adalah para penjajah, tetapi perjuanganmu akan sedikit
lebih sulit, karena yang kau lawan bangsamu sendiri!”
Pasti mempertahankan kemerdekaan pastinya
lebih sulit daripada merebutnya, mengingat musuh kita sekarang adalah bangsa
sendiri yaitu orang-orang yang telah teracun oleh pikiran-pikiran jahat untuk
mengekploitasi negri ini.
Banyak sekali permasalahan-permasalahan
telah terjadi di negri ini, semisal konflik antar individu maupun kelompok,
pecahnya persatuan gara-gara sebuah perbedaan kecil maupun besar,
penindasan-penindasan terselubung oleh kaum atasan terhadap kaum bawahan, dan
masih banyak lagi.
Di bidang perekonomian, kita tahu pasti
tahu, bahwa sesungguhnya potensi negri ini adalah di sektor pertanian dan di
sektor kelautan. Lantas mengapa di negri ini yang berpotensi di sektor pertanian justru tiap tahunnya
luas persawahan, perkebunan, dan hutan semakin berkurang, hanya semata-mata
untuk membangun sebuah industri yang berbasis kapital?
Di sektor kelautan juga, laut yang katanya dianggap sebagai
surga bagi para nelayan, justru menjadikan para nelayan melarat atas kelaparan
dan kemiskinan! Banyak sekali peraturan-peraturan dan upeti yang begitu
memberatkan bagi para nelayan
yang
justru menguntungkan bagi beberapa oknum-oknum jahat yang membuat nasib para
nelayan memprihatinkan!
Sungguh
miris apabila negri yang digadang-gadang sebagai negri pengekspor, karena
kekayaan alamnya yang melimpah, justru menjadi negri yang pengimpor utama,
karena alasan kekurangan!
Siapakah
yang salah? Apakah pemerintah atau justru rakyatlah yang disalahkan? Takkan ada
yang mau mengaku salah, meskipun Tuhan semesta alam sudah mengetahuinya!
Minggu, 03 April 2016
Melupakan Perbedaan Demi Kemajuan
Melupakan
Perbedaan Demi Kemajuan
Wahai
pembaca, di negeri ini memang sangat terkenal dengan keanekaragaman budayanya,
kita tahu sendiri bukan dari Sabang sampai ke Merauke terdapat beribu-ribu
kebudayaan. Mulai dari agama, ras, etnis, suku, bahasa, maupun golongan
semuanya sangat beragam dan berbeda-beda tentunya. Namun pada kenyataannya
justru dengan perbedaan yang sangat beragam tersebut, menimbulkan berbagai
permasalahan dan perpecahan diantara daerah, serta sering terjadi konflik yang
disebabkan oleh perbedaan tersebut.
Memang di negeri ini mempunyai sebuah alat untuk
mempersatukan bangsa, yaitu Pancasila. Akan tetapi, sepertinya alat tersebut
sering dilupakan dan dibuang begitu saja, karena tetap saja masih banyak permasalahan yang
disebabkan oleh perbedaan.
Maka dari itu, seperti yang pernah
diucapkan oleh pak Guz Yazid, “lupakanlah
perbedaan, mari bersatu, bersama-sama membangun Indonesia menuju gerbang
kemajuan di semua aspek kehidupan!
Memang
keanekaragaman budaya juga ada baiknya, yaitu membuat negri ini seakan-akan
kaya dengan budayanya. Akan tetapi percuma-percuma saja kalau tidak ada
persatuan dan kesatuan di tiap individu maupun kelompok-kelompok tertentu.
Untuk itu sekali lagi, lupakanlah sejenak perbedaan yang ada, marilah
tingkatkan rasa persaudaraan, rasa persatuan, dan kesatuan demi mengakhiri masa
kelam di negri ini dan merubahnya dengan negri yang berkeadilan,
berkentraman, serta berkeamanan!
Kita
semua pun sebenarnya secara tak langsung mempunyai janji yang harus kita
penuhi, yaitu yang tercantum di dalam sumpah pemuda, karena kita terlahir
sebagai anak bangsa Indonesia. Janji itu pun
berisi sebagai berikut :
“Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe,
tanah Indonesia.
Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia”.
Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia”.
Dengan
itu, marilah bersama-sama kita penuhi sumpah tersebut, karena kita sejatinya
generasi penerus yang diharapkan.
Semua
percaya, bahwa pemuda dan pemudi memiliki semangat yang luar biasa untuk
menciptakan dan menggerakan perubahan yang pada akhirnya bisa membawa bangsa
ini meninggalkan masa kelamnya dan merubahnya dengan yang lebih baik, karena
pemuda dan pemudi menjadi kekuatan yang luar biasa apabila mereka bergerak
serentak dan berkomitmen sama untuk memajukan bangsa Indonesia. Untuk itu
sangat diharapkan bagi pemuda dan pemudi, mampu bersatu dan menanamkan semangat
kebangsaan demi kemajuan dan kesejahteraan bangsa Indonesia.
Salah
satu indikator, bahwa seorang pemuda memiliki semangat kebangsaan adalah dengan
memilikinya kebanggaan sebagai bangsa Indonesia. Dalam meresapi semangat
kebangsaan, tentunya sebagai pemuda dan pemudi harus melakukan sesuatu yang
lebih, minimal bagi diri kita sendiri dengan mewujudkan semangat kebangsaan
sebagai bangsa yang berbudaya dengan mencintai tanah airnya sendiri, berbudi
pekerti dengan menerapkan hidup yang jujur, sebagai bangsa yang cerdas dengan
mendayagunakan tenaga dan pikiran, serta mencapai prestasi yang nantinya akan
membawa harum nama tanah air kita di mata internasional.
Pelaksanaan
aksi para pemuda dan pemudi bangsa Indonesia, sebaiknya kita maknai tidak cukup
dengan menggelorakan kembali semangat para pejuang secara retorika saja,
melainkan juga harus menekankan pada aksi yang nyata. Karena itu, saya mengajak
semua pemuda dan pemudi Indonesia untuk berkarya, lupakan perbedaan, bersatulah
padu mewujudkan kemajuan Indonesia. Kemajuan sudah menanti kita, asalkan kita
mau berjuang dengan keras dan pantang menyerah!
refrensi :
PANCASILA YANG SEMAKIN TERLUPAKAN
Pancasila yang Terlupakan
Berbicara
tentang Pancasila, kita semua masyarakat Indonesia pasti mengenal dengan nama
itu. Nama yang digunakan untuk alat pemersatu nusa dan bangsa NKRI, mulai
dilahirkan pada tanggal 1 Juni 1945 oleh para tokoh pahwalan proklamasi.
Pancasila sendiri juga merupakan ideologi Negara kita yang sudah beranjak umur
ke 70 tahun ini.
Kita
merupakan Negara yang memiliki beribu macam suku, agama, adat istiadat, dan
golongan, untuk itulah para pendiri bangsa kita membuat Pancasila dengan tujuan
mempersatukan bangsa dari segala perbedaan-perbedaan yang ada. Setidaknya
itulah dasar bagi masyarakat agar Pancasila diamalkan dan dilestarikan, dengan
begitu masyarakat dapat memberikan yang terbaik kepada bangsa dan Negara
Indonesia.
Ketika
Pancasila di zaman ini sudah mulai memudar, disini peran pemerintah sangat
penting dalam membimbing dan menyakinkan masyarakat ,agar Pancasila tetap
berjalan sebagai ideologi di negri ini. Tidak hanya dengan ucapan dan janji-janji manis saja yang harus
dilakukan oleh pemerintah, namun juga harus dilakukan dengan cara mengamalkan
dan mengiplikasikan nilai-nilai Pancasila di dalam kehidupan sehari-hari,
semisal hidup dengan jujur, tidak saling membeda-bedakan, tidak membodohi masyarakat
kecil, tidak korupsi di kehidupan masyarakat dan pemerintahan.
Namun
apa yang terjadi? Hari ini, Pancasila yang sudah menginjak umur yang ke 70
tahun ini, justru Pancasila kian memudar dan terpojok. Kedalaman nilai-nilainya
tak lagi sebagai panutan, nilai-nilai luhur kebangsaan di dalam tubuh Pancasila
kerap dikhianati oleh sebagian anak bangsa, termasuk juga para pemerintahan.
Pancasila layaknya terpojok di suatu ruang, karena telah dikepung oleh
keegoisan dangkal semata-mata.
Langganan:
Komentar (Atom)